SINGARAJA FM,-Hari raya nyepi tahun baru saka identik dengan membuat ogoh-ogoh sesuai dengan kreativitas masih-masing.Salah satunya yang direalisasikan dalam ogoh-ogoh Ulian Manusa karya Pang Len Community, Banjar Kaje Kangin, Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.Menariknya, ogoh-ogoh ini didominasi botol plastik yang juga menjadi kritik sosial terhadap lingkungan.Dari pantauan, ogoh-ogoh ini terbilang cukup tinggi dan gagah, meski hanya ada satu tokoh saja.
Undagi (arsitek ogoh-ogoh), Kadek Satya Saputra, 17,
menyebutkan ogoh-ogohnya ini setinggi lima meter dengan lebar 3,5 meter
beratnya pun ditafsir antara 100-150 kilogram.
Selain itu, aksesoris ogoh-ogoh ini didominasi
sampah plastik utamanya botol. Rambutnya pun menggunakan botol plastik, begitu
juga dengan gelungan (hiasan kepala tradisional/mahkota Bali) yang
bunga-bunganya menggunakan sampah plastik, serta aksesoris lainnya yang
menggunakan tutup botol plastik.
Tampak juga ratusan botol plastik yang menjadi dasar
ogoh-ogoh, yang menggambarkan alam semesta kini dipenuhi dengan sampah plastik.
Di tangan kirinya, ogoh-ogoh besar ini memegang
kantong plastik berisi botol plastik serta tiruan tengkorak hewan. Sedangkan di
tangan kanan memegang bumi yang dikelilingi bulan.
”Karena bertema lingkungan, jadi kami pakai
bahan-bahan plastik yang mencemari lingkungan. Kami dapat dari lingkungan dan
sekolah. Botol plastiknya sampai empat karung besar. Tidak ada pakai clay juga”
ujar Satya pada kamis(27/3) sore.
Katanya, ogoh-ogoh Ulian Manusa menceritakan
ketidakseimbangan alam, karena manusia yang membuang sampah sembarangan.
Ternyata hal itu membuat Ibu Pertiwi menjadi murka.
Yang juga sambungan dari ogoh-ogoh yang mereka buat di 2024 tentang hitam dan
putih atau keseimbangan.
Sedangkan di Hari Suci Nyepi 1947/2025, Pang Len
Community melanjutkan dengan gambaran alam semesta yang tidak seimbang.
Satya mengungkapkan, ogoh-ogoh ini digarap
bersama-sama oleh 25 orang, yang juga merupakan anggota dari komunitas
tersebut.
Mengenai kesulitan, pihaknya mengaku hanya keteteran
waktu saja, sebab karya ini mulai dibuat sejak pertengahan Februari 2025.
Dana yang mereka habiskan pun hanya Rp 3,5 saja
untuk membuat ogoh-ogoh yang tidak kalah menarik, dengan yang ada di Bali
selatan.
Selain penggunaan sampah plastik,
ogoh-ogoh Ulian Manusa ini juga menggunakan akar beringin sebagai
hiasan di kaki dan tangan, kemudian menggunakan serabut kelapa sebagai kuku
ogoh-ogoh.
”Pesannya, jangan buang sampah sembarangan serta
jangan eksploitasi hewan. Mari jaga lingkungan agar tetap bersih dan asri,”
katanya berpesan.
0Komentar