TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Nyepi Bersamaan Dengan Tumpek Wariga : Refleksi Keharmonisan Untuk Kesejahteraan Kehidupan

Nyepi Bersamaan Dengan Tumpek Wariga : Refleksi Keharmonisan Untuk Kesejahteraan Kehidupan

Daftar Isi
×

SINGARAJA FM,-Dalam konteks Nyepi tahun 2025, pesan utama adalah bahwa kita dapat memperoleh kesejahteraan hidup (wariga) dengan merenungkan diri kita sendiri dengan melihat kembali apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan, dan bagaimana kita bertindak sebagai sthana Tri Murti dalam diri kita sendiri. Kemenangan Dharma sesungguhnya adalah hasil dari refleksi diri. Ini adalah 25 hari menyambut Galungan.  Apakah akhirnya kemenangan itu?  Keharmonisan dan keseimbangan adalah yang terakhir.  Kemenangan dan sejahtera akan dicapai melalui harmoni. Dengan kemenangan, kesempurnaan rohani dan moksa akan dicapai.  Oleh karena itu, Nyepi, yang berarti "sunya" dan "kosong", merupakan spirit Nyepi di tahun 2025.

Kadek Satria mengatakan bahwa beberapa hari suci Hindu berlangsung bersamaan karena perhitungan tahun wuku, yang berlangsung selama 210 hari, dan sasih, yang datang setiap tahun (tahun kabisat 366 hari dan tahun biasa 365 hari).  Hari suci dengan kedua perhitungan dewasa ini (subadewasya) pasti akan bertemu dalam waktu tertentu.  Selain itu, pertemuan mereka dianggap tidak biasa.

Untuk menyambut dua hari suci yang sama, Tumpek Wariga dipuja untuk kebaikan tumbuhan dan Nyepi dipuja sebagai tiga kekuatan alam yang melakukan penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan.  Menurut I Kadek Satria, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, konteks Tri Murti ini merupakan refleksi, reinkarnasi, dan penguatan kesadaran kesemestaan hidup.

Disebutkan bahwa setiap hari suci memiliki makna filosofis yang berbeda; beberapa memang berkaitan dengan alam, kita sebagai manusia, dan mungkin juga berkaitan dengan keduanya.  Jadi, pesan yang bisa kita sampaikan dalam melakukannya adalah memadukan makna.  Tahun baru saka 1947 jatuh pada tanggal 29 Maret 2025, saniscara kliwon wuku Wariga. Hari ini adalah hari besar untuk memuja Dewa Sangkara, yang merupakan pertunjukan Tuhan yang baik terhadap sarwaning tumuwuh (tanaman).

Nyepi adalah perayaan tahun baru saka. Ini bukan hanya merayakan Tahun Baru, tetapi juga merupakan awal yang luar biasa bagi leluhur kita untuk memaknai anugerah dengan bersyukur tanpa batas.  Ada sesuatu yang istimewa tentang Nyepi tahun ini: Sunya dan kemurnian, bersama dengan pemuliaan tanaman, berlangsung dalam satu hari, yang menunjukkan bahwa hari suci mewujudkan keharmonisan dengan sangat baik. Sebagai umat, kita harus mengikuti pola laku kita untuk mewujudkannya dalam kehidupan nyata, sehingga kita dapat menikmati hasilnya.

Lebih lanjut ketika Nyepi, amati geni, juga tidak dibenarkan mengambil semua kerja, seperti misalnya menyalakan api, disetiap tempat tinggalnya, seharusnya yang dilakukan adalah mempelajari tattwa cerita atau ilmu pengetahuan suci, melakukan semadhi dan melakukan yoga semadi. Dalam petikan secara bebas lontar diatas, maka ada pesan yang sangat dalam yang bisa kita petik, bahwa pada saat Nyepi adalah pemujaan kepada Sang Tiga Wisesa atau Sang Hyang Tri Murti. Sebagai manifestasi beliau sebagai penguasa tiga alam untuk keselamatan akan penciptaan, pemeliharaan dan peleburan segala yang ada.

Dengan berpedoman pada kedua sumber tentang hari suci yang bersamaan ini maka bisa kita ambil landasan pemikiran yaitu tumpek wariga sebagai pemujaan untuk kebaikan tumbuhan untuk menyambut hari suci Galungan dan Nyepi sebagai pemujaan tiga kekuatan alam untuk melakukan penciptaan, pemeliharaan dan peleburan. Kontek Tri Murti ini adalah refleksi, reinkarnasi dan penguatan kesadaran kesemestaan hidup. Bahwa yang terlahirkan akan terpelihara hidupnya dan akan Kembali setelah selesai kewajibannya.

Bukan tidak ada alasan kenapa kemudian kita mesti memaknai dalam bertemunya Hari Suci Nyepi dengan Tumpek Wariga. Sebab dalam kaidah hidup tidak ada istilah kebetulan, namun semua seolah sudah tergariskan sebagai hukum tetap (rta) yang tanpa bisa ditentang oleh apapun dan siapapun. Segala sesuatu dipertemukan oleh waktu dan berpesan luas agar kita lebih meyakini dan mengaplikasikan ajaran agama dengan baik

Dalam konteks Nyepi tahun 2025 ini, pesan nyata adalah bahwa refleksi diri dengan melihat kembali fikiran, perkataan dan perbuatan kita sebagai sthana Tri Murti dalam diri, untuk memperolah kesejahteraan Hidup (wariga) dan ujungan adalah kemenangan Dharma sesungguhnya ( menyambut 25 hari menuju Galungan ). 



0Komentar

sn
sn
Special Ads